Membangun Kembali Kejayaan Kawasan Tambang Batubara di Distrik Shiding, New Taipei City

  • 07 December, 2019
  • 譚雲福
AADT: Membangun Kembali Kejayaan Kawasan Tambang Batubara di Distrik Shiding, New Taipei City

        (Taiwan, ROC) – Sebelum mengajak para pendengar dan netizen menyusuri lokasi bekas tambang batubara yang ada di kawasan Distrik Shiding, Kota New Taipei, alangkah baiknya, jika kita melihat sekilas tentang perkembangan pertambangan batubara hingga waktu penutupan lokasi tambang batubara terakhir di tahun 2000.

        Membahas masalah pertambangan batubara di Taiwan, mungkin akan banyak sekali masyarakat dunia yang tidak pernah mendengar jika ternyata Taiwan, juga sempat memiliki pertambangan batubara.

        Akan tetapi, jika ingin membahas masalah pertambangan batubara di Taiwan, maka kita harus kembali melihat jaman masa kependudukan Belanda di pulau Formosa khususnya dibagian selatan Taiwan yang berlangsung sejak tahun 1624 hingga 1662, sementara untuk utara Taiwan dikuasai oleh Spanyol yang berlangsung sejak tahun 1626 hingga 1642. Dari sini dapat kita lihat, jika Taiwan sendiri sedari awal telah menjadi pulau yang diperebutkan oleh beberapa negara, termasuk Dinasti Ming, yang kemudian masuk pada 1662 hingga 1683, sementara Dinasti Ching sendiri berkuasa sejak 1683 hingga 1895, dan terakhir adalah Jepang yang berkuasa mulai dari 1895 hingga usai perang dunia ke 2, yakni tahun 1945.

        Pertambangan batubara di Taiwan sendiri, jika merujuk kepada catatan sejarah yang ada, dimulai sejak masa jaman pemerintah Dinasti Ching pada tahun 1876, tepatnya di kawasan Badouzhih Keelung, yang juga merupakan lokasi pertama pertambangan batubara yang dikelola oleh pemerintah kala itu. Namun semua bentuk penggalian batubara di Taiwan, berakhir pada tahun 2000, dengan penutupan terakhir lokasi tambang batubara, sehingga sejarah pertambangan batubara Taiwan hanya berusia sekitar 125 tahun.

        Pertambangan batubara di Taiwan tersebar di beberapa lokasi, mulai dari utara Taiwan yakni di Keelung, selatan Taiwan ada di Nantou, gunung Alishan di Chiayi, pulau Penghu atau pulau Pescadores. Dari ke semua lokasi pertambangan, pada akhirnya lebih banyak berpusat pada kawasan utara Miaoli, karena kualitas batubara yang ada di kawasan setempat dikategorikan terbaik.

        Kembali melihat Distrik Shiding, yang merupakan salah satu kawasan yang termasuk dalam naungan kepengawasan pemerintah kota New Taipei, berlokasi di bagian pegunungan barat daya kota Taipei, karena banyaknya perbukitan di sana, maka pembangunan yang ada tidak semaju kawasan lain, selain itu jumlah penduduk setempat juga tergolong sangat sedikit.

        Perekonomian Distrik Shiding awalnya bergantung kepada pertambangan batubara, namun karena jenis industri penggalian batubara mengalami kemunduran, maka banyak penduduk yang mulai melakukan migrasi ke kawasan lainnya.

        Sebelah barat Distrik Shiding adalah Distrik Hsindian dan Shenkeng, bertetanggaan dengan Distrik Nangang, Wenshan yang termasuk dalam ruang lingkup pemerintah kota Taipei. Di sebelah timur adalah Distrik Pinglin, di sebelah ujung utara adalah kawasan Pingshi, bagian selatan adalah Wulai.

        Setelah lokasi penambangan batubara di kawasan Distrik Shiding ditutup, lantas apa keunggulan yang masih dimiliki olehnya? Mungkin banyak yang mengetahui keberadaan Feicui Dam, yang khusus menyediakan kebutuhan air masyarakat kota Taipei dan New Taipei. Meskipun Feicui Dam, terletak di dalam kawasan Hsindian, namun dari luas Feicui dam yakni 10,24 km persegi, ada 92% darinya justru berada di kawasan Shiding, ini yang menjadi alasan pentingnya kawasan Shiding dalam hal pemenuhan kebutuhan air bagi masyarakat, serta menjadi salah satu lokasi yang dilestarikan.

        Kata Shiding sendiri sebenarnya ada 2 versi, yang pertama adalah karena kawasan setempat banyak dipenuhi dengan batu-batu yang berukuran besar, sehingga pada saat warga setempat hendak melintasi sungai, maka pasti akan melalui tumpukan batu-batu besar yang juga sekaligus mempengaruhi alur jalannya air sungai. Sementara versi lainnya adalah karena perahu-perahu kecil harus ditambatkan pada batu-batu besar tersebut, agar tidak dibawa aliran sungai, sehingga semua proses penguatan atau penambatan pada batu besar disebut Shiding.

        Kawasan Distrik Shiding sendiri, di masa kejayaannya, yakni pada saat adanya penggalian tambang batubara, jumlah penduduk setempat mencapai lebih dari 10 ribuan orang, namun setelah lokasi pertambangan setempat ditutup oleh pemerintah, jumlah penduduk yang ada di Shiding berkurang drastis, banyak anak muda yang meninggalkan kampung halamannya, dan mengadu nasib di kota Taipei. Kini jumlah penduduk Shiding hanya ada sebanyak 7.635 orang (Merujuk pada data statistik Agustus 2019), dengan luas total wilayah Shiding adalah 144,34 km persegi. Sehingga jika melihat perbandingan seperti demikian, maka boleh terlihat kawasan setempat sangat sepi, tidak terlihat aktivitas kehidupan masyarakat setempat.

        Walau demikian, pemerintah kota New Taipei berupaya kuat untuk dapat mencoba menaikkan kembali “pamor” Shiding seperti dulu, setidaknya mampu merubah kawasan yang awalnya adalah lokasi pertambangan, dapat disulap menjadi lokasi wisata, dengan turut memperkenalkan kebudayaan pertambangan masa lampau.

        Di sana, ada beberapa rumah sederhana yang awalnya adalah rumah tempat tinggal para pekerja dan pimpinan perusahaan pertambangan, kini telah dirubah menjadi lokasi yang menawarkan kenyamanan kehidupan alam, dengan turut serta menyemangati anak muda agar dapat kembali ke kampung halamannya dan berkarya, salah satunya adalah anak muda yang dijuluki “Kakak Kunang-Kunang”, yang memiliki rasa cinta akan dusun setempat, dan mencoba memungut semua barang yang dibuang di lembah atau perbukitan setempat, kemudian dikumpulkan dan dipamerkan di salah satu bekas rumah tempat tinggal pekerja tambang. Dari sini dapat terlihat, ternyata barang yang sebelumnya dibeli dengan harga yang tidak murah, setelah tidak terpakai, terbuang begitu saja. Untungnya Kakak Kunang-Kunang ini berinisiatif untuk menciptakan kembali suasana layaknya saat zaman pertambangan batu bara dulu.

        Para pengunjung bisa melihat berbagai buku, benda-benda yang awalnya adalah sampah, namun usai dibersihkan dan dikembalikan kepada wujud aslinya, maka pengunjung bisa mengetahui berbagai produk yang sempat menjadi trendi di masa lampau, seperti mesin telepon, mesin ketik, corong suara, kotak pos dan lain sebagainya.

        Selain itu, karena di kawasan Shiding diteliti oleh para pakar ahli, ternyata memiliki kadar ion negatif hingga mencapai sebanyak lebih dari 20 ribu ion. Sehingga ada perusahaan swasta yang melakukan investasi dengan membangun sebuah lokasi wisata yang menawarkan Ganoderma, sejenis jamur yang memiliki banyak khasiat.

        Meskipun kondisi setempat masih membutuhkan banyak perbaikan dan kerja keras, namun perjalanan ke Shiding sangat mudah, cukup dengan naik bus umum no 795 dari depan stasiun MRT Muzha, dengan jarak tempuh sekitar 40 an menit.

Program liputan ini disponsori dan didukung oleh Pemerintah New Taipei City Departemen Pariwisata(新北市政府觀光局)

Nantikan selanjutnya, liputan tentang kawasan jalan tua Shenkeng di AADT berikutnya.

Komentar

Terbarumore