Indonesia mengajukan skema perekrutan langsung untuk perusahaan Taiwan

  • 09 October, 2019
  • 陳志勇
Indonesia mengajukan skema perekrutan langsung untuk perusahaan Taiwan

(Taiwan, ROC) - Skema penempatan di mana pengusaha menanggung sebagian besar biaya perekrutan pekerja Indonesia diajukan pada perusahaan lokal oleh Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taiwan, menargetkan situasi saling menguntungkan bagi pengusaha dan pekerja.

Sekretaris Utama Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Tatang Budie Utama Razak, memperkenalkan skema perekrutan langsung untuk menghemat biaya agen atau perantara tersebut di sebuah forum yang diadakan di KDEI, Taipei, Senin, 7 Oktober.

Melukiskan program ini sebagai alternatif bagi pabrikan Taiwan, Tatang mengatakan program tersebut merupakan "terobosan revolusioner" karena menawarkan kepada majikan saluran perekrutan alternatif pada saat melindungi pekerja migran dari eksploitasi oleh agen, broker atau perantara.

Di bawah skema yang saat ini hanya tersedia untuk pabrikan itu, pengusaha Taiwan hanya perlu menanggung biaya tiket pesawat, biaya aplikasi visa, biaya pemeriksaan medis dan asuransi, kira-kira totalnya sekitar NT$11,000 (US$353), kata Tatang.

Selain itu, pekerja Indonesia dapat bernegosiasi dengan majikan potensial mereka mengenai biaya aplikasi paspor, pelatihan dasar dan transportasi lokal.

Proses ini memungkinkan pekerja Indonesia untuk datang ke Taiwan tanpa menghabiskan banyak uang atau berutang, lanjut Tatang.

Ia menyesalkan bahwa banyak pekerja migran Indonesia (PMI) di Taiwan hanya dapat mengantongi NT$5,000 sebulan dari gaji mereka karena harus membayar biaya penempatan yang dapat berjumlah hingga ratusan ribu dolar Taiwan dan biaya bulanan lainnya kepada para agen.

Bagi pengusaha Taiwan, jelasnya, skema ini menjamin proses penempatan yang cepat dengan rata-rata satu setengah sampai dua bulan saja, dan diharapkan dapat mengurangi jumlah pekerja yang kabur secara ilegal dari majikan mereka.

Tatang berpendapat bahwa PMI biasanya kabur karena utang besar dari biaya penempatan atau untuk menghindari membayar biaya rehiring kepada broker ketika kontrak kerja mereka berakhir.

Menurutnya, gaji di Taiwan relatif rendah, berkisar antara NT$17,000 dan NT$23,100, dan pekerja Indonesia mungkin memilih untuk pindah ke negara lain jika biaya penempatan tidak dapat dikurangi.

Skema perekrutan langsung tanpa biaya tersebut diluncurkan bersama oleh Kementerian Ketenagakerjaan Indonesia dan Kementerian Ketenagakerjaan (MOL) Taiwan pada bulan Januari. Uji coba dijalankan sejak Juli.

Di bawah skema tersebut, pengusaha mengajukan permintaan untuk pekerja migran di Pusat Layanan Perekrutan Langsung (DHSC) di bawah MOL. MOL kemudian mengeluarkan izin perekrutan bersama dengan KDEI di Taipei, dan informasi segera disalurkan kepada pihak berwenang Indonesia yang pada gilirannya mencari pelamar yang sesuai pada database mereka.

Hingga saat ini, hanya ada 11 pekerja Indonesia yang dipekerjakan di bawah skema tersebut, oleh Shinkong Textile Co. di Taiwan.

Menurut laporan kantor berita CNA, pengusaha masih kekeberatan tentang skema tersebut karena masalah manajemen pasca-sewa belum teratasi, antara lain pemrosesan dan biaya pemeriksaan medis tahunan, perpanjangan dokumen serta penanganan penyelesaian sengketa.

Berdasarkan data MOL, tercatat ada 270.890 pekerja Indonesia di Taiwan pada April 2019, di mana 62.501 dari mereka dipekerjakan di sektor manufaktur.

Komentar

Terbarumore