Yuan Eksekutif akan Mempercepat Pembangunan Pusat Layanan Kesejahteraan Sosial

  • 18 January, 2019
  • 曾秀情
Koordinator Tim Pengagas Hak dan Kesejahteraan Anak Lin Wan-i

(Taiwan, ROC) --- Kasus kekerasan dan pelecehan terhadap anak-anak, kini kembali mencuat ke publik. Hal ini membuat masyarakat luas prihatin, mereka meminta kepada Yuan Eksekutif untuk mendirikan kantor perlindungan anak-anak. Ke depannya, diharapkan perlindungan dan hak anak-anak akan semakin dapat terjamin. Terkait hal ini, Koordinator Tim Pengagas Hak dan Kesejahteraan Anak Lin Wan-i (林萬億) pada Jumat (18/1) saat menerima wawancara mengemukakan tim yang dibentuk merupakan unit lintas kementerian. Hal ini juga telah memenuhi persyaratan dari Konvensi Perserikatan Bangsa Bangsa tentang perlindungan dan jaminan HAM anak-anak.

Terkait akan insiden pelecehan anak yang terjadi baru-baru ini, Lin Wan-i mengemukakan Tsai Ing-wen sesaat setelah menjabat Presiden, langsung mempromosikan untuk membentuk jaringan keamanan sosial. Kepala Negara juga meminta untuk mengubah proses penanganan yang dilakukan oleh Pusat Perlindungan anak, sesaat setelah mendapatkan laporan terjadinya kekerasan. Beliau menitikberatkan pada langkah pencegahan yang lebih nyata. Lin Wan-i mengemukakan pemerintah telah membangun pusat layanan kesejahteraan sosial di seluruh wilayah. Namun penanganannya akan diserahkan pemerintahan setempat. Menilik dari terbatasnya dana dan tenaga kerja, pembangunan ini akan terus dikebut. Hingga saat ini telah dibangun 120 unit pusat layanan. Lin Wan-i berharap sesegera mungkin dapat menyelesaikan seluruh pembangunan pusat layanan sosial, seperti yang telah ditetapkan sebelumnya, yakni 160 unit.

Lin Wan-i mengatakan, “Jumlah 120 ini tentu tidak cukup. Kami berharap dapat mendirikan 1 unit pusat layanan kesejahteraan sosial untuk setiap 150.000 penduduk. Idealnya, dibutuhkan sekitar 150 atau 160 unii. Hingga saat ini, masih kurang 30 atau 40 unit. Tahun lalu kami telah menambahkan 14 unit dan setiap tahunnya akan bertambah 10 unit. Terkait jumlah pekerja sosial, juga mengalami kekurangan. Tahun lalu telah bertambah 326 orang. Tahun ini juga akan masih bertambah dan kami harap dapat meningkat menjadi 3.000 orang.”

Lin Wan-i melanjutkan berdasarkan data statistik, kasus kekerasan terhadap anak-anak kerapkali terjadi dalam kategori keluarga ekonomi lemah; meliputi orang tua yang pengangguran, mengonsumsi narkoba, cacat, atau tidak siapnya mental orang tua yang menikah muda.

Ia menambahkan sebelumnya pusat layanan sosial ketika mendapat laporan adanya kasus kekerasan, mereka akan menyelesaikan dengan cara yang lebih persuasif, mengingat pusat layanan ini tidak memiliki kekuatan publik. Pusat ini juga tidak dapat berfungsi secara maksimal ketika hendak menyelesaikan kasus. Terbatasnya dan tidak mampunya mengubah sumber daya pemerintah, menambah kepelikan dari kasus kekerasan anak-anak. Dan bahkan ditemukan kasus kekerasan, yang tidak tercatat dalam daftar mereka. Menilik dari kasus penyiksaan yang berujung pada kematian dari bayi berusia 1 tahun lalu yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri, yang notabene juga masih berusia sangat muda. Sistim yang dimiliki pusat layanan kesejahteraan sosial tidak dapat menjamin seluruh kemajuan informasi dan bahkan tidak mampu memberikan pertolongan tepat waktu.

Lin Wan-i mengemukakan pusat layanan kesejahteraan sosial akan berintegrasi dengan sistim informasi sitematis yang dimiliki instansi lainnya; misal sekolah, rumah sakit, dan kantor urusan sipil. Ke depannya, seluruh informasi dari keluarga ekonomi lemah akan dapat terpantau, dan jika jaringan keamanan nasional sudah terbentuk, maka langkah pencegahan akan dapat berfungsi lebih maksimal.

Komentar

Terbarumore