close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Mantan Presiden Ma Ying-jeou Akan Melakukan Kunjungan Bersejarah ke Tiongkok

  • 20 March, 2023
  • 陳志勇
Mantan Presiden Ma Ying-jeou Akan Melakukan Kunjungan Bersejarah ke Tiongkok
Mantan Presiden Ma Ying-jeou Akan Melakukan Kunjungan Bersejarah ke Tiongkok

(Taiwan, ROC) - Mantan Presiden Ma Ying-jeou (馬英九) dari partai oposisi Kuomintang (KMT) dijadwalkan mengunjungi Tiongkok dari tanggal 27 Maret hingga 7 April, dan akan menjadi mantan presiden Republik Tiongkok pertama yang berkunjung ke Daratan Tiongkok.

Yayasan Kebudayaan dan Pendidikan Ma Ying-jeou mengonfirmasi pada Minggu malam bahwa mantan presiden Ma berencana mengunjungi beberapa kota di Tiongkok, termasuk Nanjing, Wuhan, Changsha, Chongqing, dan Shanghai.

Menurut yayasan tersebut, perjalanan Ma ke Tiongkok bertujuan untuk menyembahyangi leluhur selama Festival Qingming atau Cengbeng mendatang, dan Ma akan memimpin delegasi yang terdiri dari mahasiswa Taiwan untuk melakukan pertukaran dengan mahasiswa Tiongkok, serta mengunjungi situs bersejarah yang berkaitan dengan revolusi tahun 1911 yang dipimpin oleh Bapak Pendiri Republik Tiongkok (ROC) Sun Yat-sen (孫逸仙), dan Perang Tiongkok-Jepang 1937-1945.

Sebagai mantan presiden, Ma perlu melaporkan perjalanannya sebelum keberangkatan dan setelah kembali ke Taiwan kepada Kantor Kepresidenan di bawah Undang-Undang yang Mengatur Hubungan antara Masyarakat Wilayah Taiwan dan Wilayah Daratan Tiongkok, meskipun larangan perjalanan ke luar negerinya telah berakhir pada 19 Mei 2021.

Juru bicara Kantor Kepresidenan Lin Yu-chan (林聿禪) mengonfirmasi bahwa kantornya telah menerima laporan tentang perjalanan Ma ke Tiongkok pada hari Senin pagi. 

Lin menegaskan, Kantor Kepresidenan menghormati rencana Ma Ying-jeou untuk menyembahyangi leluhur, dan setelah mengetahui tentang pengaturan yang relevan, telah meminta lembaga terkait untuk memberikan bantuan yang diperlukan demi keselamatan Ma dan hal-hal lain selama perjalanannya.

Ma Ying-jeou menjabat sebagai presiden ROC pada 2008-2016. Selama waktu itu kedua belah pihak Selat Taiwan menikmati hubungan terbaik sejak berakhirnya perang saudara Tiongkok pada tahun 1949, berpuncak dengan diadakannya pertemuan penting antara Ma dan Presiden Tiongkok Xi Jinping (習近平) di Singapura pada tahun 2015, tidak lama sebelum Tsai Ing-wen (蔡英文) dari Partai Progresif Demokratik (DPP) terpilih sebagai presiden pada Januari 2016.

Kunjungan kali ini meraih sorotan tinggi karena dilakukan pada saat hubungan antara kedua belah pihak telah memburuk ke keadaan terburuk dalam beberapa dekade dan ketegangan telah meningkat ke tingkat yang mengkhawatirkan, di mana pemerintah Taiwan memperluas wajib militer dan sering memperingatkan ancaman dari Beijing.

Tetapi seruan pemerintah Taiwan untuk berdialog tanpa prasyarat telah diabaikan oleh Beijing yang tidak mempercayai pemerintah DPP, meyakini bahwa partai tersebut berusaha mencapai kemerdekaan Taiwan yang sangat ditolaknya.

Pemerintah DPP, sementara itu, menyalahkan hubungan kedua pihak yang memburuk pada Beijing, mengatakan bahwa Tiongkok terus mengancam Taiwan dengan kekerasan militer dan mengurangi kehadiran internasional Taiwan dengan memburu sekutu diplomatiknya.

Perihal perjalanan Ma ke Tiongkok, juru bicara KMT Lin Chia-hsing (林家興) mengatakan dia yakin kunjungan tersebut akan meningkatkan pertukaran di Selat Taiwan dan menambah saling pengertian antara masyarakat di kedua sisi.

Sementara Chen Ting-fei (陳亭妃), anggota Yuan Legislatif dari Partai DPP yang berkuasa, mengatakan Ma hanya bisa mewakili dirinya sendiri dan bukan 23 juta warga Taiwan, menambahkan bahwa ia tidak tahu peran apa yang akan dimainkan Ma selama perjalanannya ke Tiongkok.

Komentar

Terbarumore