close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

EDU Mendukung Perpanjangan Masa Bakti Wamil

  • 08 November, 2022
  • 尤繼富
EDU Mendukung Perpanjangan Masa Bakti Wamil
EDU Mendukung Perpanjangan Masa Bakti Wamil

(Taiwan, ROC) --- Menghadapi ancaman yang dilancarkan Tiongkok terhadap Taiwan, maka Kementerian Pertahanan Nasional (MND) tengah mengevaluasi perpanjangan masa wajib militer. Pada tanggal 8 November 2022, wadah pemikir Economic Democracy Union (EDU) menggelar konferensi pers di Yuan Legislatif, guna mengusulkan proposal yang mendukung perencanaan perpanjangan masa wamil.

Salah satu perwakilan EDU, Luo Yi (羅宜) menyampaikan, personil militer tetap yang dipunyai oleh MND berjumlah 188.000 orang. Namun, berdasarkan siaran pers yang dirilis MND pada tahun 2021 memperlihatkan, bahwa total tentara militer profesional hanya berjumlah 169.200 orang, atau dengan kata lain berkurang sekitar 20.000 hingga 30.000 orang. Di samping itu, jumlah warga yang menerima pelatihan wajib militer setiap tahunnya akan berkisar 80.000 orang.

Angka di atas diprediksi akan terus mengalami penurunan, seiring melemahnya angka kelahiran penduduk. Di tengah situasi yang ada, maka dilakukan perpanjangan masa wamil.

Koordinator wadah pemikir EDU yang juga berprofesi sebagai pengacara, Lai Chung-chiang (賴中強) menganjurkan perpanjangan masa wamil harus didasarkan pada beberapa prinsip, meliputi masa bakti 1 tahun, pelayanan militer yang adil dan beragam. Atau dengan kata lain, selain menjalani wamil selama 1 tahun penuh, maka warga juga bisa memilih untuk mencicil masa bakti atau dapat menjalankan wamil secara paruh waktu. Dengan demikian, warga dapat memahami konten pelatihan dengan lebih mendalam.

Lai Chung-chiang mengatakan, “Beberapa orang bisa memilih, apakah bisa mencicil masa bakti mereka. Atau dengan kata lain, setelah selesai menjalani wamil, maka setiap tahunnya dapat kembali ke lapangan untuk memperoleh pelatihan selama 15 hari. Berikutnya, “wamil paruh waktu”, atau dengan kata lain warga bisa kembali memperoleh pelatihan dengan tetap mempertahankan profesi mereka.”

Lai Chung-chiang lebih lanjut menekankan, “wamil paruh waktu” yang diusungnya tersebut mengacu pada Pasukan Pertahanan Dalam Negeri Polandia, yakni dengan tetap mempertimbangkan profesi pekerjaan para warga. Warga bisa menjalani pelatihan saat akhir pekan atau ketika mereka sudah pulang rumah selepas bekerja seharian.

Komentar

Terbarumore